Sukses

Mangku Kopi, Seruput Kopi Nusantara dengan Keramahan Yogya

Yogyakarta, Kota Jogja identik dengan kekayaan budaya dan keramahan lokal. Suasana inilah yang kerap dicari dan menarik para pelancong untuk kembali.

Tak heran, menyeruput kopi di Kota Pelajar ini otomatis menawarkan pengalaman berbeda. Terutama bagi kaum metropolis yang selama ini terbiasa dengan tampilan kafe atau coffee shop modern.

Salah satu kedai kopi bersuasana khas yang kami jumpai adalah Mangku Kopi di bilangan Mangkunegaran, bagian selatan Yogyakarta.

Posisinya cukup strategis, masih “bersebelahan” dengan Jalan Prawirotaman dan Tirtodipuran yang identik dengan spot favorit wisatawan mancanegara dan aneka kuliner. Namun, tidak sepadat dan seramai dua jalan tersebut. 

Nama “Mangku Kopi” sendiri cukup menarik. Kata-kata “pribumi” yang dipilih seolah menjanjikan pengalaman ngopi khas setempat.

Terbukti, suasana akrab kental menyapa kala menyambangi Mangku Kopi. Dari balik kios kayu semi-permanen, tanggap menyapa sang pemilik menyambut kami ramah. 

Pak Iben, yang kini berusia 55 tahun mengaku mantap resign dari pekerjaan demi mengejar passion menjajakan kopi Nusantara.

Mangku Kopi sendiri baru dilakoninya sejak 1 Agustus lalu, memanfaatkan pekarangan dari hunian klasik berarsitektur Belanda di tepi jalan raya yang tenang, dan buka di atas pukul 18.00 sore.

Tampilan lugas inilah yang jadi daya tarik khas Mangku Kopi. Suasana yang memang diburu untuk menemani nikmatnya tiap seruput kopi hitam Nusantara di Kota Yogyakarta .

Iben tampak aktif berinteraksi, tak segan untuk menemani para pengunjung mengobrol hangat, baik itu konsumen lokal maupun asing. Suatu hal yang jarang ditemui di kedai kopi lain, dan tentunya akan meninggalkan kesan akrab di benak pelanggan.

“Rasa kopi di mana-mana pasti sama, maka harus dicari strategi lain yang bisa membuat kita bersaing. Kami memang ingin membuat suasana kedai ini ramah bersahabat,” beber pria dengan latar belakang marketing ini. 

Tak heran, tipikal pengunjung Mangku Kopi pun beraneka ragam, mulai dari kenalan, warga sekitar, hingga turis yang lalu-lalang.

Tiap cangkir kopi yang ditawarkan juga cukup ramah di kantung, di harga Rp10.000 untuk tiap cangkir, dan Rp40.000 untuk jenis luwak. Dari awal 9 item, kini tersedia hingga 15 varietas kopi Nusantara, dengan teknik penyeduhan manual brewing.

Tak perlu disodori menu, begitu datang pengunjung dapat langsung memilih lewat deretan toples-toples yang berjajar apik, antara lain Gayo Aceh, Kintamani Bali, Sidikalang, Bajawa Flores, Luwak Medan, Dampit, Mandailing, Vietnam, Kalosi Toraja, Lampung, Sunda Gulali, Berawie Aceh, Peaberry, Pupuan Bali dan Bangka.

Baca berita menarik Trubus.co lain di sini.

 

1 dari 3 halaman

Murah Meriah

Selain kopi nusantara, tersedia pula teh, ice atau hot chocolate, serta latte. Menemani cangkir Anda, dapat dipesan makanan ringan seperti french fries, mendoan, pancake, dan roti bakar di kisaran Rp10-12.000.

“Paling banyak diminati Aceh Gayo, Toraja, Mandailing dan Kintamani Bali. Per minggunya masing-masing bisa habis tiga perempat kilo,” sambung Iben, yang setiap malamnya dibantu oleh Guruh, sang anak.

Meski merupakan kedai nongkrong ala “pekarangan”, Mangku Kopi tak lantas minim fasilitas. Seolah-olah, tanggap menyadari bahwa kebutuhan setiap konsumen yang datang tentu berbeda-beda.

Tak kalah dengan coffee shop modern, fasilitas Wi-Fi dan colokan listrik pun tersedia bagi mereka yang datang untuk menikmati kopi tapi memilih sibuk di balik laptop. Ditambah, fasilitas toilet yang bersih.

Menarik memang, mengingat belum banyak kedai kopi “pinggir jalan” di Yogyakarta yang memberikan fasilitas “surga” ini. Lebih terjangkau dibanding kafe, dengan keasyikan yang sama.

 

 

2 dari 3 halaman

Suasana Khas Yogya

Suasana khas ala Yogyakarta kian kental di atas pukul 21.00, kala meja-meja di Mangku Kopi penuh dengan pengunjung. Pengunjung umumnya datang berkelompok kecil.

Bagi Anda para pelancong dari daerah lain, dialek lokal yang bersahut-sahutan ibarat alunan pelepas penat di telinga. Tikar pun digelar hingga di dalam ruang tamu rumah, untuk memfasilitasi tamu yang baru datang.

Marione, seorang solo traveler asal Jerman, mengaku sudah dua kali mampir di Mangku Kopi usai menghabiskan hari menjelajah Yogyakarta.

“Saya suka es cokelatnya yang enak, dan bisa dapat informasi tentang Yogya justru dari mengobrol di sini,” ujar wanita paruh baya yang tengah menjelajah Asia Tenggara tersebut.

Ke depannya, Iben berniat untuk terus mempercantik Mangku kopi, terutama dalam hal prasarana yang akan lebih memperkuat kekhasan tempat mereka.

Siapa sangka, layout unik Mangku Kopi utamanya lebih karena dilatarbelakangi keterbatasan modal di awal berjalan.

“Meja kursi ini sebenarnya saya kumpulkan dari beberapa tempat, termasuk kafe kakak saya yang tutup, makanya beraneka ragam,” kekeh Iben.

Baca berita menarik Trubus.co lain di sini.

Artikel Selanjutnya
Kampung Bakpia Jogja, Legenda yang Bertahan Melawan Zaman
Artikel Selanjutnya
Rendang dan 'Triangle Concept' Kuliner Nusantara