Sukses

Apakah Anda Siap Memiliki Anak? Siapkan Dulu Hal-Hal Berikut Ini

Liputan6.com, Jakarta Belum menikah, sering ditanya kapan kawin. Begitu sudah jadi pengantin, giliran dibombardir soal rencana punya anak kapan. Fenomena ini rasanya sudah lazim di Indonesia. Hidup yang lurus lempeng ya begitu. Sekolah, kuliah, kerja, nikah, lalu punya anak. Tiap tahapnya terkesan gampang dilewati, padahal tidak demikian. Apalagi kalau bicara soal punya anak.

Wajar jika orang ingin segera punya anak setelah menikah. Namun mimpi punya anak bukanlah mimpi sembarangan. Inilah yang sering luput dilihat orang kebanyakan. Mau punya anak mungkin tidak sulit. Namun tanggung jawab besar perlu dipikirkan. Punya anak berarti punya tanggungan baru.

Menurut DuitPintar.com, sebelum mewujudkan mimpi punya anak, siapkan dulu hal-hal berikut ini.

1. Pekerjaan tetap

Punya pekerjaan itu bagus. Tapi lebih bagus lagi kalau pekerjaan itu bersifat tetap. Dengan status kerja tetap, masa depan lebih terjamin. Pegawai kontrak membawa risiko tidak diperpanjang kontraknya. Pegawai honorer dan outsourcing lebih besar lagi risikonya. Jadi, kalau saat ini belum jadi pekerja tetap, waktunya untuk bekerja lebih keras agar pasti segera diangkat. Adapun bila Anda adalah pekerja freelance, pastikan sudah punya beberapa klien yang jadi pelanggan. Nah, jika Anda berstatus wiraswasta, sebaiknya bisnis yang dijalankan sudah lancar. Paling tidak, sudah tak terjadi defisit dalam arus keluar-masuk keuangan.

2. Penghasilan yang mencukupi

Pekerjaan tetap saja belum cukup untuk memastikan bebas masalah saat punya anak. Satu hal lain yang dibutuhkan adalah penghasilan yang mencukupi. Untuk mengetahui cukup tidaknya penghasilan, harus dihitung pemasukan dan pengeluaran tiap bulan. Setelah punya pasangan, sebaiknya gabungkan cash flow keduanya. Paling tidak ada sisa penghasilan 10 persen yang ditabung. Tabungan ini tidak termasuk untuk dana pendidikan anak kelak, ya. Dana pendidikan harus ada pos tersendiri yang tidak boleh diganggu gugat.

Bila setelah dihitung, ternyata dana belum mencukupi, berarti perlu strategi baru. Misalnya cari pekerjaan sampingan. Bisa juga menyambi jualan kue, pulsa, atau apa pun yang menghasilkan demi mencukupi kebutuhan keluarga.

 

1 dari 3 halaman

3. Dana darurat

Ini masih berkaitan dengan poin sebelumnya. Sisa penghasilan 10 persen sebaiknya dialokasikan ke dana darurat. Dana ini dikumpulkan hingga maksimal untuk digunakan dalam kondisi darurat. Misalnya ada musibah kecelakaan yang butuh penanganan segera. Dana ini bisa diambil untuk membayar biaya rumah sakit. Atau yang lebih parah, kepala keluarga terkena PHK sehingga penghasilan terganggu. Dana ini bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan setidaknya enam hingga 12 bulan ke depan sembari mencari mata pencarian baru.

Jadi, tinggal dihitung saja berapa dana yang dibutuhkan dari pengeluaran tiap bulan. Misalnya tiap bulan pengeluaran Rp 4 juta, berarti minimal ada dana darurat Rp 4 juta x 6 bulan = Rp 24 juta. Tapi lebih aman kalau dana tersebut dibuat maksimal, yaitu Rp 4 juta x 12 bulan = Rp 48 juta.

4. Dana pendidikan

Biaya pendidikan anak juga mutlak mesti dipikirkan. Ada dua alternatif yang bisa diambil, yakni tabungan pendidikan atau asuransi pendidikan. Masing-masing punya keunggulan dan kelemahan, tinggal dicari mana yang paling cocok dengan kebutuhan. Bila ingin mendapat kepastian nominal dana pendidikan, pilih tabungan pendidikan. Sebetulnya ada alternatif lain untuk dana pendidikan, yakni investasi. Misalnya lewat deposito, emas, hingga reksa dana.

Ini tidak termasuk asuransi, ya, meski banyak yang bilang asuransi pendidikan itu termasuk investasi karena memakai skema unit link. Lebih baik memisahkan investasi dengan program asuransi. Betul asuransi adalah bentuk investasi juga, tapi lebih condong ke investasi kesehatan.

 

2 dari 3 halaman

5. Investasi masa depan

Masih berkaitan dengan poin no. 4, investasi untuk masa depan pun harus disiapkan. Ini investasi yang lebih luas, untuk seluruh keluarga. Tapi dalam praktiknya bisa juga investasi ini digabungkan dengan persiapan dana pendidikan anak. Yang penting kita memisahkan imbal hasil sesuai dengan peruntukannya. Misalnya berinvestasi reksa dana saja. Nah, hasilnya nanti dibagi. Misalnya mendapat imbal hasil Rp 2 juta dalam sebulan, Rp 1 juta untuk biaya pendidikan anak dan Rp 1 juta sisanya untuk investasi keluarga.

Artikel Selanjutnya
6 Hal Ini yang Membuat Anda Masih Single
Artikel Selanjutnya
Hindari 5 Topik Diskusi Ini Saat di Tempat Kerja