Sukses

Tentang Dawuk, Novel Pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2017

Liputan6.com, Jakarta Setelah meraih penghargaan pemenang pertama dalam Sayembara Menulis Novel DKJ 2014 lewat judul novel Kambing dan Hujan, Mahfud Ikhwan pada tahun ini kembali melanjutkan catatan manis kepengarangannya tersebut. Adalah Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2017, sebuah penghargaan di bidang kesusastraan yang diinisiasi oleh Richard Oh dan telah berlangsung selama hampir 17 tahun, yang membuat nama Mahfud Ikhwan kembali diperhitungkan dalam khazanah kesusastraan Indonesia.

Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu (selanjutnya akan disebut Dawuk), adalah karya terbaru yang bersaing dengan karya dari empat penulis lain dalam kategori prosa KSK 2017. Novel pertama Indonesia yang diterbitkan oleh Marjin Kiri tersebut mengalahkan empat karya prosa lainnya.

“Salah satu kesepakatan mendasar terkait Dawuk karena pondasi kemampuan pengarangnya bernarasi kuat,” kata Geger Riyanto selaku salah satu juri dalam KSK 2017, seperti dalam keterangan tertulisnya kepada Liputan6.com beberapa waktu lalu.

Akademikus Universitas Indonesia itu menambahkan, Mahfud Ikhwan mampu menjaga ceritanya terus-menerus agar tetap memikat dari awal hingga akhir. Selain itu, menurutnya, penokohan dalam Dawuk juga terasa sangat kuat, dan penggambaran masalah dalam ceritanya pun terasa sangat nyata, tidak dilebih-lebihkan, tidak diada-adakan, dan berkesinambungan secara tepat.

Terakhir, ia juga menilai bahwa eksperimen Mahfud Ikhwan dalam Dawuk yang membubuhkan ketidakberbedaan antara fiksi dan kenyataan juga menjadi nilai tambah. Secara khusus, dalam Dawuk, adanya gerak ulang-alik fiksi ke fakta dan ke fiksi menjadikan sense eksperimental yang menyenangkan dari sebuah karya sastra.

Novel Dawuk menceritakan seorang lelaki bernama Warto Kemplung, yang pada suatu malam, di sebuah warung kopi, ia merawikan kisah asmara antara Mat Dawuk dan Inayatun kepada siapa saja yang sudi mendengarnya di warung kopi tersebut. Tidak hanya sebatas kisah asmara, Warto Kemplung juga bercerita tentang asal-usul Dawuk dan Inayatun, dua sejoli yang dipandang miring oleh masyarakat, hingga ke sejarah dari sebuah wilayah bernama Rumbuk Randu itu sendiri.

Namun, dalam sampul bagian belakang, tertulis di sana seperti semacam peringatan, “Masalahnya, sejauh mana cerita Warto itu sungguh terjadi; atau hanya bualan untuk menutupi masa lalunya sendiri?”

 

 

1 dari 2 halaman

Proses Kreatif

Kepada Liputan6.com, Mahfud Ikhwan bercerita banyak soal proses kreatif dalam menciptakan Dawuk hingga menjadi sebuah novel.

Mahfud mengatakan, nama Dawuk sendiri berangkat dari premis awal di masyarakat Pantai Utara Jawa. Diceritakan olehnya, Dawuk merupakan warna dari bulu kambing, campuran antara putih dan hitam, tapi cenderung gelap.

“Kalau bahasa Indonesianya yang paling dekat dengan Dawuk itu ya kelabu. Makanya Dawuk itu di sini (novel) punya makna yang ganda. Di satu sisi sebagai ejekan untuk nama tokoh utamaku, Muhammad Dawud. Tapi, di sisi lain, Dawuk menggambarkan keseluruhan isi novel tentang sesuatu yang gelap, tapi tidak sepenuhnya gelap.”

Novelis kelahiran 1980 ini kemudian melanjutkan, Dawuk dikerjakannya setelah ia selesai menonton film Machete pada tahun 2010. Machete sendiri merupakan film Amerika yang menceritakan imigran asal Meksiko yang memiliki banyak musuh di negeri Paman Sam.

Dalam gambarannya tentang Machete, menurut Mahfud, pasti ada sosok seperti itu pada imigran-imigran asal Indonesia. “Gabungan antara nasib buruk dan keberanian yang berlipat, kira-kira seperti itu,” tambahnya.

Maka itulah, dalam penghargaan KSK rabu kemarin, Mahfud memberikan tribut kepada teman-temannya yang bekerja sebagai buruh imigran.

“Aku mengenal orang-orang yang berjuang hidup mati untuk menyeberang ke negeri seberang, menjadi bulan-bulanan di negeri jiran. Bahkan, beberapa orang mati. Banyak orang yang pulang dengan menjadi kaya, tapi banyak juga yang hilang, dalam artian hidupnya hancur, keluarganya hancur, cita-citanya hancur.”

Terkait dengan menangnya Dawuk dalam ajang KSK kemarin, pendiri dari penerbit Marjin Kiri, Ronny Agustinus, mengatakan bahwa pandangannya terhadap Dawuk tidak berubah. Ia mengatakan bahwa ini adalah karya bagus dan penting.

“Kami menganggap bagus dan penting bukan dari jenisnya novel atau kumcer, tapi dari penulisan, tema yang diangkat, dan keutuhannya sebagai sebuah karya. Serta relevan secara sosial atau tidak,” ujarnya.

 

Artikel Selanjutnya
Tere Liye dan Profesi Penulis yang Masih Dipandang Sebelah Mata
Artikel Selanjutnya
Tak Ada Pemenang Pertama dalam Sayembara Kritik Sastra DKJ 2017