Sukses

3 Tempat di Hanoi Ini Bukti Vietnam Menjaga Peninggalan Sejarah

Liputan6.com, Jakarta Vietnam merupakan negara di Asia yang tahu cara menjaga warisan dan peninggalan sejarah dari suatu bangsa. Tempat-tempat ini buktinya. Hal ini tampak dari bekas komplek kerajaan, makam orang paling berpengaruh di Vietnam, dan sejumlah pagoda yang masih terawat. Bahkan jika mengalami kerusakan, pemerintah setempat tak sungkan menggelontorkan dana untuk merenovasi tempat tersebut. 

Tidak heran jika kemudian negara bekas jajahan Prancis ini gencar mempromosikan wisata sejarah. Sebisa mungkin para turis yang berdatangan ke Vietnam, tak terkecuali Hanoi, akan dibawa napak tilas ke tempat-tempat bersejarah itu sebelum ke tujuan utama, apalagi kalau bukan Ha Long Bay. 

Berikut daftar tempat bersejarah paling sering dikunjungi turis asing, termasuk turis dari Indonesia, saat ke Hanoi, Vietnam.

1. Mausoleum atau "makam" jasad Ho Chi Minh

Anda pasti tak menyangka jika bangunan megah yang berada di dalam kompleks Istana kepresidenan Vietnam adalah makam dari jasad Presiden pertama di Vietnam, Ho Chi Minh.

Menurut Phouong, pemandu wisata dari Golden Tour yang membawa peserta Indonesia's Outbound Travel Agents Fam Trip 2017, di dalam bangunan itu terdapat jasad Ho Chi Minh yang sudah diawetkan. Jasad dari sosok pemimpin yang sampai akhir hayat tidak juga menikah, ditaruh di dalam peti kaca. 

"Untuk bisa masuk ke tempat itu harus mengantre cukup panjang. Sampai di dalam pun tidak diizinkan foto-foto," kata Phoung. 

Phoung mengatakan bahwa turis dari Indonesia rata-rata tidak mau masuk. Malas mengantre, kata dia. Rata-rata memilih untuk sekadar berfoto dengan latar belakang Mausoleum.

Dan, tempat itu ditutup untuk umum selama tiga bulan dalam setahun. Dari September, Oktober, dan November. "Ditutup untuk direnovasi," kata dia menekankan.

 

1 dari 3 halaman

2. Pagoda satu pilar

Pagoda berukuran kecil ini berada di satu pekarangan yang sama dengan Mausoleum. Jalan sedikit ke arah parkiran, kemudian belok ke kiri menuju sebuah gedung yang di bagian depan terdapat lambang palu arit. Nah, pagoda satu pilar ini ada di sebelah kanan. 

Bentuk dari pagoda satu pilar ini menyerupai bunga teratai. Dibangun oleh Kaisar Ly Thai To sebagai perwujudan rasa terimakasih karena sang Budha menjabah doa-doanya selama ini.

"Kaisar ini diceritakan sudah tua, tapi belum juga dikaruniai anak laki-laki. Kaisar Ly Thai To takut jika sampai tidak punya anak, tahta dan harta akan diberikan ke dinasti lain," kata Nguyen Phouong.

Dari kegelisahan dan kegundahan itu yang membuat Kaisar terus berdoa setiap malam. Sampai pada satu malam dia bermimpi, sang Budha (yang digambarkan) duduk di atas bunga teratai mendatanginya, dan mengatakan bahwa sang istri akan hamil anak laki-laki. 

Satu tahun kemudian sang istri dinyatakan hamil. Benar saja, anak laki-laki yang diidamkan selama ini lahir ke muka bumi. 

"Sebagai wujud rasa syukur dan terimakasih, Kaisar pun memerintahkan rakyatnya membangun pagoda yang mirip sama bunga teratai," kata Phouong.

Namun, bangunan yang sekarang ada itu bukan yang asli, melainkan sudah mengalami renovasi beberapa kali. Pagoda satu pilar itu pernah hancur saat Vietnam diserang Prancis pada tahun kira-kira 1049. 

"Dibangun kembali pada 1955. Masih sama dengan bangunan yang asli, sedikit saja perbedaannya," kata Phouong menambahkan.

 

2 dari 3 halaman

3. Imperial Citadel of Thanlong

3. Imperial Citadel of Thanlong

Tempat ini adalah istana raja. Pertama kali yang menempatinya adalah raja Vietnam pertama. Secara garis besar, sama saja dengan Imperial Citadel di Kota Hue. Paling tua umurnya adalah Imperial Citadel of Thanlong ini.

Hanya saja, tak ada lagi yang menarik dari tempat ini. Semenjak bagian dalam komplek kerajaan menjadi sasaran bom Prancis dan tak direnovasi lagi karena satu dan lain hal, turis Asia masih lebih senang mengunjungi Imperial Citadel di kota Hue.

Di sana semuanya masih lengkap. Bangunan-bangunan kerajaan masih utuh, kuil, makam, bahkan taman yang indah dengan suasana yang asri. 

"Di sini yang masih utuh hanya bagian pintu saja," kata Phouong.

"Paling, turis dari Prancis atau Eropa yang senang ke sini, kalau Asia maunya ke Hue karena masih asli, original," kata Phouong menekankan.

Artikel Selanjutnya
Arkeolog Temukan Mal Zaman Romawi Berusia 2.000 Tahun
Artikel Selanjutnya
Mencari Jejak Manusia Prasejarah di Maluku