Sukses

Tari Katrili, Akulturasi Dua Budaya dalam Satu Tari Tradisi

Liputan6.com, Jakarta Kepercayaan kepada Ruwintuwu atau Dewi Penari membuktikan, seni tari pada masyarakat Minahasa sudah ada sejak lama. Tak heran jika Minahasa juga memiliki beragam tari tradisional, salah satunya adalah Tari Katrili.

Tari Katrili merupakan tari muda-mudi yang menggambarkan persinggungan dua budaya berbeda, yaitu budaya Minahasa dan Eropa, yakni Portugis-Spanyol. Jessy Wenas dalam buku Sejarah dan Kebudayaan Minahasa mengungkap, Katrili secara etimologi berasal dari bahasa Portugis, yaitu “Quadrille” yang berarti tarian empat pasangan.

Tarian ini mempunyai dua jenis langkah, yaitu Waltz irama tiga per empat dan Gallop langkah dua per empat, dengan aba-aba komando dilakukan oleh pemimpin tari dalam bahasa Prancis.

Merunut pada sejarah terbentuknya tarian, Tari Katrili berasal dari tarian Lalaya’an ne Kawasaran, yaitu tarian yang penarinya membentuk dua baris dan saling berhadapan untuk membentuk formasi dan bertukar tempat. Pada zaman Spanyol di Minahasa, tarian adat ini berubah menjadi tarian pergaulan yang disebut dengan Lansee, di mana pasangan penari pria dan wanita saling berputar dan bertukar posisi.

 Kusnan, pelatih tari tradisional saat dihubungi Liputan6.com beberapa waktu lalu mengatakan, Tari Katrili menggambarkan kesetiaan, juga merepresentasikan masyarakat Sulawesi Utara yang cenderung terbuka kepada tamu yang datang.  Tari Katrili

Penyambut Tamu Agung

Dari segi kostum, penari perempuan mengenakan gaun dan laki-laki mengenakan jas yang lekat pegaruhnya dengan kebudayaan Eropa. Seorang penari bertugas sebagai Katapel, yaitu komando tari yang selalu mengeluarkan aba-aba kepada para penari untuk melakukan gerakan tertentu. Pada masa zaman Spanyol di Minahasa, aba-aba yang keluar dari Katapel menggunakan bahasa Portugis – Spanyol. 

Tarian ini biasa diiringi suara Kolintang. Namun seiring perkembangan zaman, pementasan Tari Katrili kini lebih banyak yang menggunakan suara Kolintang rekaman. Saat ini Tari Katrili kerap dipentaskan dalam berbagai hajat orang Minahasa, misal perhelatan budaya hingga penyambutan tamu agung.

 

Artikel Selanjutnya
RI Raih Juara 3 di Festival Musik Tradisional Uzbekistan
Artikel Selanjutnya
Tari Saman Gayo Akan Tampil Keliling Eropa