Sukses

5 Destinasi Wisata yang Jadi Tempat Ritual Malam 1 Suro

Liputan6.com, Jakarta Malam satu suro punya makna tersendiri bagi masyarakat Jawa. Malam yang diperingati saat matahari terbenam sebelum masuk tanggal satu Suro atau satu Muharram dalam penanggalan Islam ini, kerap diisi dengan berbagai ritual. Bahkan ada aturan di dalam masyarakat Jawa zaman dulu untuk tidak keluar rumah, kecuali untuk keperluan berdoa.

Setidaknya ada tiga tradisi yang kerap dilakukan masyarakat Jawa saat malam satu Suro, antara lain Tapa Bisu, yaitu puasa berbicara, Tirakatan yaitu tidak tidur semalam suntuk (begadang), dan Kungkum yaitu berendam di sungai atau mata air tertentu yang dianggap keramat.
Percaya atau tidak, beragam tradisi tersebut masih ada yang melakukannya hingga saat ini. Berikut tiga lokasi wisata yang kerap menjadi tempat ritual seputar malam satu suro, seperti yang disusun tim Liputan6.com, Rabu (20/9/2017).

Petirtaan Jolotundo, Candi Belahan
Berlokasi di desa terpencil di Pasuruan, tepatnya di Desa Wonosuryo, untuk mencapai lokasi Candi Belahan perlu energi ekstra mengingat akses jalan yang berliku dan rusak. Menurut catatan sejarah, Candi Belahan senndiri merupakan cagar budaya peninggalan Kerajaan Airlangga. Petirtaan Jolotundo sendiri dibangun sebagai tempat pertapaan Prabu Airlangga beserta dua permaisurinya, yaitu Dewi Laksmi dan Dewi Sri.

Tiap malam satu suro Petirtaan Jolotundo menjadi salah satu lokasi bagi banyak orang untuk melakukan ritual. Mata airnya yang jernih yang mengucur dari payudara kedua permaisuri tersebut menjadi tempat kungkum, yaitu tempat berendam di malam satu suro.

Pantai Parangtritis

Jika Anda ingin menyaksikan ‘wajah” Pantai Parangtritis dengan nuansa yang berbeda, datanglah saat malam satu suro. Pasalnya di malam tersebut, banyak orang berdatangan untuk melakukan ritual jamasan, yaitu menyuci benda-benda pusaka, seperti keris misalnya. Tak hanya itu, banyak orang juga berdatangan untuk melakukan tradisi melarung ke pantai Parangtritis.

Stupa Sumberawan, Candi Singosari

Stupa Sumberawan yang ada di Candi Singosari menjadi salah satu lokasi yang kerap digunakan untuk ritual malam satu suro. Candi yang berada di Malang, Jawa Timur ini punya tempat petirtaan yang dahulu pernah digunakan oleh Ken Dedes. Di lokasi ini, banyak masyarakat Jawa pada malam satu suro melakukan berbagai ritual, mulai dari ruwatan yang difungsikan sebagai memdia untuk meluruhkan penyakit hati, hingga suguhan Nitiputut, yaitu memanggil arwah untuk masuk ke dalam boneka Jawa.

Keraton Surakarta Hadiningrat

Lingkungan keraton yang lekat dengan budaya Jawa juga kerap melakukan berbagai ritual di malam satu suro. Keraton Surakarta Hadiningrat yang juga salah satu destinasi wisata heritage di Solo misalnya , tidak pernah absen melakukan ritual Kirab Kebo Bule di tengah malam satu suro. Dalam versi Jawa, ritual ini dilakukan untuk memohon berkah dan keselamatan, selain juga menjadi momen untuk menyambut tahun yang baru. Tak heran jika dalam momen ini banyak orang dan wisatawan yang berbaur berkumpul untuk mengharap berkah atau hanya sekadar berwisata.

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Keraton Yogyakarta kerap melakukan tradisi Jamasan saat malam satu suro, yaitu tradisi menyuci benda pusaka. Tradisi ini biasanya diawali dengan berbagai ritual lain, yaitu tirakatan (tidak tidur semalam suntuk) hingga tuguran (perenungan diri sambil berdoa). Dalam masyarakat Jawa, keris menjadi pusaka yang dianggap sakral sehingga perlu dibersihkan tiap tahun. Tak hanya itu, Keraton Yogyakarta juga punya tradisi unik seputar malam satu suro yang tidak ada di daerah lainnya di Pulau Jawa, yaitu tradisi Tapa Bisu Mubeng Beteng, yaitu tradisi mengelilingi benteng-benteng yang ada dalam kompleks keraton. Bagaimana, apakah Anda tertarik melihatnya?

Saksikan Live Streaming Jakarta Fashion Week 2018

Tutup Video
Artikel Selanjutnya
Bukit Seroja Wonosobo, Wisata Alam Cantik yang Bikin Melongo
Artikel Selanjutnya
7 Tempat Liburan Keluarga Terbaik di Bogor untuk Akhir Pekan Seru