Sukses

Kopi Janggut, Perpaduan Unik Kopi, Puisi, dan Musik di Belitung

Liputan6.com, Jakarta Berada di Belitung, Kedai Kopi Janggut merupakan tempat melankolis yang begitu banyak mengundang perhatian. Dibuka selepas sembahyang Magrib hingga sekitar pukul 2 pagi, Kedai Kopi Janggut menjadi tempat berkumpulnya masyarakat untuk sekadar menikmati kopi dan musik.

Namun, tidak hanya kopi dan musik, satu hal yang begitu menarik dan membuat Kopi Janggut berbeda dari tempat ngopi lainnya di Belitung adalah puisi. Ya, puisi. Seperti yang Anda ketahui, Belitung adalah wilayah yang sarat dengan sastra. Mungkin inilah mengapa Andrea Hirata menaruh hatinya di Belitung pada tulisan-tulisannya.

Diran Janggut, seorang pria paruh baya berjanggut akan dengan lantang membacakan bait demi bait puisi ketika menyeduh kopinya untuk disajikan kepada para pelanggan yang datang. Tidak heran jika tempat ini begitu diminati, mengingat masih sangat terbatasnya wisata malam di Belitung.

Mulai dari wisatawan mancanegara, rombongan pemerintahan dari berbagai daerah, hingga Sultan Hamengkubowono X pernah mengunjungi Kopi Janggut.

"Dulu mbah saya itu orang Jawa, buat kopi di Jawa. Begitu meninggal, saya nerusin. Dulu namanya Kopi Jawa, tapi karena enggak sesuai, wong ini di Belitung, akhirnya pake nama Kopi Janggut saja, kan saya berjanggut," cerita Pak Janggut ketika ditanya oleh Tim Liputan6.com.

Ketika datang ke Kopi Janggut, telinga Anda juga akan dimanjakan oleh alunan musik yang dimainkan oleh masyarakat setempat. Tidak tanggung-tanggung, beberapa alat musik yang terkenal sulit dimainkan juga bisa Anda temui di sini, seperti terompet dan biola.

Seperti menonton orkestra mini dengan kopi yang nikmat dan puisi-puisi yang indah. Kopi Janggut disajikan langsung dari biji kopi Robusta yang didapatkan langsung dari tanah Belitung dan Sumatera. Tertarik ke Belitung?

Simak juga video menarik berikut ini:

Artikel Selanjutnya
Top 3: Kemukus Saat Soekarno Lahir, Latte Art ala Barista Tampan
Artikel Selanjutnya
Pentas Abnon Terbaru Akan Kawinkan Gambang Kromong dan Orkestra