Sukses

HEADLINE: Satu Kantor Sejuta Peluang di Co-Working Space

Liputan6.com, Jakarta Deru debu dan desing kendaraan bermotor jadi santapan sehari-hari para pekerja kantor. Setelah berjuang dengan kemacetan jalan, para pekerja juga langsung dihadapkan dengan tumpukan tugas kantor dan ocehan bos yang tak ada habisnya. Suasana itulah yang kemudian membuat Riza (25) memutuskan meninggalkan pekerjaannya di salah satu perusahaan iklan dan lebih memilih bekerja sebagai freelancer.

Riza jengah dengan suasana yang terus-menerus sama dan menurutnya membosankan. Lantas, hanya bermodal kamar kos, laptop, dan internet cepat, Riza yang punya keahlian desain grafis memulai bisnis boneka rajut hasil kolaborasi dengan beberapa temannya. "Jadi, saya tidak perlu ngantor sekarang. Cukup di kamar kos. Cuma kalau ada proyek saya harus bertemu dengan teman-teman di satu tempat, misalnya di kedai kopi," ujar Riza saat dihubungi Liputan6.com, Kamis (31/8/2017).

Hal serupa juga dilakukan Fikry Fatullah (30). Bersama 13 temannya yang berada di 8 kota berbeda di Indonesia, dirinya membangun bisnis tanpa sebuah gedung kantor. Di zaman serba digital ini, dia menganggap perusahaan berkonsep “full remote” dengan kantor virtual sangat mungkin dilakukan. Komunikasi cukup lewat aplikasi chat. Dari situ, Fikri membangun bisnis startup.

Kepada Liputan6.com, Fikry mengaku, agar tidak bosan bekerja dari kamar kos dan kedai kopi, para karyawannya juga kerap memanfaatkan ruang-ruang yang bisa disewa per jam yang ada di kota masing-masing. Tujuannya untuk menciptakan suasana kerja baru. Bagi mereka, pindah-pindah tempat (ruang dan gedung tempat kerja) atau yang sekarang disebut co-working space bukan jadi masalah. Justru tidak membosankan.

Tentu ada beberapa pertimbangan saat menentukan dan memilih co-working space. Kriteria tersebut antara lain, kemudahan menuju lokasi, membership benefit untuk para anggota, jenis orang yang datang ke tempat tersebut, hingga suasana kantor yang nyaman juga menjadi bahan pertimbangan. Menurut Fikry, co-working space menjadi penting ketika pekerjaan atau proyek yang dibuat bersifat kreatif, butuh kolaborasi dengan orang-orang lain yang membutuhkan keahlian kreatif juga. Maka, tak heran, dalam sebuah co-working space, berkumpullah orang-orang dengan keahlian macam-macam utamanya yang terkait dengan industri kreatif.

Sangat masuk akal pula, seorang desainer seperti Monique Alexa (37), rela meninggalkan gedung kantornya yang ada di Tangerang. Ia lebih memilih bekerja di Jakarta Creative Hub, sebuah co-working space yang dibangun Pemprov DKI di masa kepemimpinan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Banyak alasan mengapa Monique melakukan itu. Selain lokasinya sangat strategis dan mudah dijangkau, yaitu di kawasan Tanah Abang, Jakarta Creative Hub sebagai co-working space juga memiliki fasilitas lengkap untuk kebutuhan desainer fashion seperti dirinya. Mulai dari fasilitas laser cutting hingga 3D printing.

“Enggak cuma itu, yang terpenting di tempat ini kita juga bisa membangun network dengan teman-teman co-office dari bidang kreatif lain tentunya,” kata Monique.

Monique mengaku, biaya sewa kantor yang semakin tinggi di Jakarta menjadi alasan mengapa dirinya memilih untuk bekerja di co-working space. Selain lebih irit secara pengeluaran, Monique yang baru bergabung ke co-working space pada bulan Juni kemarin, juga mengharapkan bisa berkolaborasi dengan orang-orang di bidang lain. Seperti desain grafis, arsitek, dan ilustrasi untuk membangun dan bertukar pikiran dalam menelurkan ide untuk koleksi barunya.

“Sekarang saya sedang ngerjain koleksi untuk Jakarta Fashion Week. Ke depan kita mau coba menggunakan sulam tangan kolaborasi sama ibu-ibu rusun binaan Jakarta Creative Hub. Itu ibu-ibu yang ada di rusun binaan Pak Ahok. Kan ada beberapa rusun yang ibu-ibunya diajarkan membatik, menyulam,” ungkap Monique.

1 dari 3 halaman

Belum tentu irit

Meski bisa menjadi ajang kolaborasi dan bekerja tanpa tekanan bos, terkungkung macet dan harga kantor yang melambung, bekerja melalui co-working space belum tentu menjamin seseorang lebih produktif.

Co-working space kebanyakan berkonsep open office. Itu artinya semua orang bisa melihat aktivitas orang lain dari perusahaan dan keahlian yang berbeda. Kalau tidak hati-hati, interupsi makin banyak dan akhirnya bisa membunuh produktivitas kerja itu sendiri. Co-working space memang penting untuk wadah berkumpul, bertemu, dan networking. Namun, menjadi berbahaya untuk mereka yang sifat kerjanya butuh konsentrasi tinggi atau serius terus-menerus,” kata Fikry.

Co-working space, kata Fikry, bisa berbahaya bagi pekerja ajeg yang butuh konsentrasi dalam pekerjaannya. Ini karena kultur co-working space yang sifatnya terbuka. Apalagi beberapa pekerjaan menuntut seseorang bekerja lebih fokus, serius, menguras otak, yang lebih cocok bila dilakukan dalam suasana perkantoran pada umumnya.

"Memang, beberapa co-working space menyediakan ruang pribadi, tapi kebanyakan harganya masih terlalu mahal. Jika diakumulasi setahun, harganya bisa untuk menyewa satu kantor kecil," ujar Fikry.

Di Bandung, menurut pengamatan Fikry, co-working space rata-rata disewakan di kisaran Rp 350 ribu tiap 2 jam bekerja dalam ruang privat. Jika dalam sehari seorang karyawan bekerja selama 8 jam, maka harga yang harus dikeluarkan untuk menikmati fasilitas tersebut mencapai Rp 1,4 juta dalam sehari. Tentu harga ini sangat fantastis, karena dalam 5 hari bekerja harus mengeluarkan sekitar Rp 7 juta.

Jika nilai tersebut diakumulasi dalam sebulan, maka harganya setara dengan menyewa sebuah ruko bertingkat tiga dengan kisaran Rp 35 juta hingga Rp 45 juta per tahun. Beberapa co-working juga memberikan harga Rp 3 juta per bulan untuk ruang privat, yang bila diakumulasikan selama setahun juga bisa ditukar dengan sebuah ruko.

"Jadi dari sisi ekonomis, co-working space menurut saya belum ekonomis untuk pekerja serius yang memang mencari ketenangan dalam bekerja. Tapi untuk kolaborasi, memang cocok karena sesuai dengan kultur co-working space," Fikry menambahkan.

Untuk menyiasati suasana yang ia dapatkan tanpa harus ke co-working space, Fikry mengganti kegaduhan di ruang kerja, dengan layanan streaming suara di internet. Sehingga ia tetap merasakan sensasi “vibe” bekerja di luar, meski kerja di dalam rumah pribadi sekalipun. Tentu ini penting untuk efektivitas kerja. Hasilnya, Fikry berhasil menciptakan aplikasi startup yang diberi nama Kirim(dot)Email dan lebih dari 5.604 orang sudah terdaftar.

"Jadi, vibe itu penting, tapi zero interruption lebih penting. Saya bisa mengorbankan vibe demi dapat fokus kerja. Jadi saya tidak akan ke co-working space untuk pekerjaan yang membutuhkan banyak sumber daya pikiran dan fokus," ungkap Fikry.

2 dari 3 halaman

10 tahun lalu


Fenomena co-working space sendiri telah muncul 10 tahun lalu di London, Inggris. Beberapa tahun kemudian fenomena ini makin menjamur di kota-kota besar di dunia. Makin terbatasnya ruang kantor karena harga sewa yang mahal menjadi salah satu alasannya. Selain juga makin berkembangnya bisnis startup dan kelelahan banyak orang dengan pekerjaan yang mengikat.

Di Indonensia, fenomena ini mulai ramai dua tahun belakangan, ditandai dengan berdirinya Asosiasi Co-working Indonensia. Yansen Kamto, CEO PT Kibar Kreasi Mandiri yang juga menjadi penasihat di Asosiasi Co-working Indonesia kepada Liputan6.com mengatakan, saat ini sudah ada sekitar 150 co-working space yang tersebar di lebih dari 20 kota di seluruh Indonesia.

Co-working Space menurut pandangan Yansen Kamto tidak sesederhana orang datang lalu buka laptop, pakai headset dan menikmati internet kencang. Tempat ini menjadi “ruang kerja” bersama banyak orang, dengan memahami terlebih dahulu tujuannya masing-masing.

“Kalau memang ingin berinovasi atau menciptakan sesuatu, kita harus percaya inovasi itu hanya bisa lahir kalau berkolaborasi. Dan kolaborasi itu datang dari orang yang berbeda. Kebayang enggak sih, kalau kita di kantor, ketemunya wartawan lagi wartawan lagi, ya gitu-gitu aja. Tapi bayangkan di satu tempat ini wartawan bisa ketemu dengan orang PR (public relation), ketemu ahli perbankan, pengacara. Itu bisa macam-macam yang terjadi,” ungkap Yansen Kamto di Menara Kibar, Jakarta, Selasa (29/8/2017).

Tidak sembarangan untuk bergabung dalam satu Co-working Space. Seseorang perlu punya pola pikir mau berkolaborasi, karena hanya dengan itu co-working space bisa berjalan. Namun demikian, banyak orang salah kaprah mengartikan tempat ini. Tak jarang orang datang hanya mengharap internet cepat. Datang tidak memberi apa-apa dan pulang tidak mendapat sesuatu apa pun. Pola pikir mau berkolaborasi inilah yang kemudian dipakai PT Kibar Kreasi Indonesia, co-working space yang dibangun Yansen Kamto, untuk menjaring pemikiran kreatif anak-anak muda Indonesia.

“Sayang kalau ke co-working space tidak punya modal apa-apa, dia minimal satu punya ide, dua kalau tidak punya ide dia harus punya skill. Terakhir yang paling ideal dia harus punya proyek. Jadi kebayang enggak, semua orang yang datang punya ide, punya skill dan punya proyek? Jadi kita kayak klinik spesial, mau datang kapan ketemu siapa, dan langsung bisa berkolaborasi dengan mereka,” kata Yansen.

Artikel Selanjutnya
Pameran Gadget Inovatif Segera Digelar di Hong Kong, Kapan?
Artikel Selanjutnya
Red Hat Raih Penghargaan Perusahaan Terbaik di Singapura