Sukses

Kata Anton Apriyantono Soal Banyaknya Sampah di Gunung

Liputan6.com, Jakarta Anton Apriyantono, Menteri Pertanian di era pemerintahan Presiden SBY, dalam waktu dekat akan melakukan ekspedisi ke tujuh gunung tertinggi di Indonesia. Bersama dengan dua orang rekannya, yaitu Tri Hardiyanto (27) dan Mila Ayu Hariyanti (28), Anton akan merampungkan penjelajahannya tersebut hanya dalam waktu seratus hari. Ekspedis yang diberi nama 7 Summits in 100 Days ini akan dimulai pada Oktober dan berakhir sebelum tahun berganti.

Keterikatan Anton dengan dunia “naik gunung” sudah terjalin sejak SMA. Dirinya menyadari adanya perkembangan yang sangat pesat dalam dunia pendakian gunung saat ini, mulai dari terciptanya perlengkapan pendakian yang lebih canggih, hingga manajemen pendakian yang sudah mulai tertata.

“Dulu sama sekarang yang beda banget lah. Sekarang mah fasilitas sudah sangat mendukung, ada guide, ada porter, zaman saya SMA itu kalau naik gunung itu gak punya ini gak punya, gak punya kompor, gak punya kompas. Tenda saja gak ada, udah tidur di mana saja,” ungkap Anton kepada Liputan6.com beberapa waktu lalu.

Namun demikian, menurutnya, terbatasnya alat pendakian itulah yang kemudian membuat para pendaki kala itu lebih mempersiapkan diri mereka jika ingin melakukan ekspedisi.

Simak juga video menarik berikut ini:

1 dari 2 halaman

Gunungan Sampah di Gunung

Dengan makin berkembangnya kemudahan-kemudahan tersebut, kini siapa pun bisa mendaki gunung. Imbasnya sampah di gunung tidak bisa dikendalikan. Anton berpesan kepada para pendaki milenial untuk turut melestarikan alam dan keindahan gunung dengan membawa kembali sampah.

“Saya pernah punya program di Rinjani, jadi waktu saya ke Rinjani untuk kedua kali, saya bawa program masalah sampah ini ke taman nasionalnya. Kita beri contoh bagaimana menangani sampah kering. Namun sayangnya itu tidak berlanjut,” kata Anton.

Menurut Anton, permasalahan sampah di gunung kuncinya ada di pengelolaan. Pengelolaan sampah di taraf nasionalnya harus termenej dengan baik, permasalahan sampah di gunung tidak bisa diselesaikan sendiri-sendiri.

“Waktu di Rinjani itu saya juga kasih ide, sederhana saja, gunung itu kasih saja hak pengelolaan. Saya juga pernah ke Kinabalu melihat bagaimana di sana mengelola sampah. Ternyata bisa bersih itu, kuncinya ya itu ada yang mengelolanya secara profesional, bukan hanya warga sekitar, tapi juga melibatkan swasta,” ungkap Anton menambahkan.

Artikel Selanjutnya
Terobosan Keren, Sampah Plastik di Laut Jadi Kaus Kaki
Artikel Selanjutnya
Pengaspalan Jalan di Bekasi Ini Pakai Sampah Plastik