Sukses

5 Sifat Chairil Anwar yang Perlu Ditiru Generasi Milenial

Liputan6.com, Jakarta Lahir dan besar di Medan, Chairil Anwar pindah ke Batavia atau sekarang Jakarta ketika berumur 18 tahun. Di Batavia, ia mulai menggeluti dunia sastra dan menulis berbagai Puisi. Dua tahun berselang ia merilis puisi pertamanya dan perlahan mengukuhkan namanya sebagai salah satu penyair ikonik Indonesia.

Lahir dan besar di Medan, Chairil Anwar pindah ke Jakarta saat dirinya berusia 18 tahun. Masa remajanya di Jakarta digunakan untuk menggeluti dunia sastra dan banyak menulis puisi. Bersama Rivai Apin dan Asrul Sani, Chairil Anwar diberi julukan sebagai tokoh pembaharu puisi modern Indonesia. Kritikus HB Jassin bahkan mengukuhkan namanya sebagai pelopor sastrawan angkatan 45.

Sayangnya, gaya hidup yang tidak teratur dan cenderung bohemian membuatnya mati muda. Pada 28 April 1949 dirinya meninggal dunia akibat beragam penyakit yang dideritanya. Di usianya yang baru 27 tahun, Chairil Anwar berpulang. Meski hidupnya terlalu singkat, namun namanya tertulis dalam tinta emas sejarah sastra Indonesia. Karya-karya puisinya abadi, terus diperbincangkan, bahkan di kalangan akademisi luar negeri.

Baik atau tidaknya sifat Chairil Anwar semasa hidupnya, banyak pelajaran yang sesungguhnya dapat dipetik generasi milenial. Berikut 6 sifat pada sosok Chairil Anwar yang perlu ditiru generasi milenial, seperti yang disusun Liputan6.com, Rabu (26/7/2017).

Sayang Ibu
HB Jassin dalam dokumentasi yang tertulis di Harian Jayakarta bertahun 1988 pernah mengungkapkan, tahun 1943 Chairil Anwar pernah ditahan dan dipenjarakan polisi. Dirinya lantas menulis surat pendek untuk ibunya yang diberikan kepada HB Jassin. “Sin tolong ibuku. Aku ditahan,” begitu isi surat.

“Surat pendek Chairil merupakan jeritan seorang anak yang sayang kepada ibunya,” ujar Jassin.

Pejuang Cinta
Bukan rahasia lagi jika Chairil Anwar memiliki banyak tambatan hati. Setidaknya ada 8 wanita yang pernah singgah di hatinya, yang bahkan menginspirasinya untuk membuat puisi. Para wanita yang antara lain Ida Nasution, Dian Tamaela, hingga Sri Aryati kerap disebut dalam puisi atau bahkan menjadi persembahan dari puisi cinta Chairil Anwar.

Multilingual
Meski “tak beres” dalam pendidikannya, Chairil Anwar ternyata seorang multilingual alias menguasai lebih dari satu bahasa. Selain bahasa Indonesia, bahasa lain yang dikuasainya antara lain bahasa Inggris, Belanda, dan Jerman. Kegemarannya membaca membuat Chairil Anwar menguasai berbagai bahasa.

Seniman Berdikari
Sempat memiliki pekerjaan tetap, Chairil Anwar memilih untuk menjadi manusia merdeka yang bebas berkarya. Tak tergantung siapa pun membuat Chairil Anwar pantas dinobatkan sebagai sosok seniman berdikari yang tidak bisa “dipesan” kekuasaan. Meski selalu hidup dalam himpitan ekonomi, namun honornya dari menulis puisi bisa menutupi kekurangannya.

Urakan yang Cinta Tanah Air
Meski dikenal memiliki gaya hidup yang bohemian namun kecintaan Chairil Anwar kepada bangsanya yang perlu diragukan lagi. Karya-karyanya antara lain Diponegoro, Persetujuan dengan Bung Karno, hingga Aku menjadi puisi yang menggambarkan sikapnya yang patriot. Bahkan dirinya turut andil dalam membuat slogan propaganda kemerdekaan Republik Indonesia pada masa penjajahan Jepang.

Simak juga video menarik berikut ini:

Artikel Selanjutnya
Mensesneg: Perlu Metode Tanamkan Pancasila ke Generasi Milenial
Artikel Selanjutnya
KOLOM BAHASA: Kamus Bisa Meningkatkan Minat Literasi Anak