Sukses

3 Penyair dan Karya Puisi tentang Palestina yang Menyayat Hati

Liputan6.com, Jakarta Subcomandante Marcos, seorang pemberontak Meksiko yang selalu menginginkan keadilan, pernah menulis puisi, "Ada yang lebih tajam dari sekadar sebutir peluru. Lebih mematikan dibandingkan racun. Lebih cepat dari sebutir peluru tajam. Lebih dari itu, Baginya kata adalah senjata." Kata-kata terlebih sebuah puisi sejak lama digunakan para penyair untuk menyampaikan protes dan mengutuk ketidakadilan yang terjadi. Tiga penyair Tanah Air ini dikenal sebagai sastrawan yang gemar membicarakan tentang Palestina ke dalam karya-karya puisinya. 

Berikut tiga penyair Tanah Air dan karya puisinya tentang Palestina yang menyayat hati, seperti yang disusun tim Liputan6.com, Senin (24/7/2017).

Taufik Ismail
Dalam sejarah sastra Indonesia, Taufik Ismail masuk dalam daftar sastrawan angkatan 66. Karya-karya puisinya banyak menceritakan tentang kemanusiaan, termasuk konflik kemanusiaan yang terjadi di Palestina. Karya monumentalnya tertulis dalam satu buku berjudul Tirani dan Benteng, yang menceritakan tentang pergolakan yang terjadi saat peralihan zaman Orde Lama ke Orde Baru. Pada 2016, saat diundang dalam Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerja Sama Islam (KTT OKI), dirinya membacakan puisi tentang Palestina yang mendapat sambutan hangat dari peserta KTT OKI.

Berikut salah satu puisi Taufik Ismail tentang Palestina.

Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu

Ketika rumah-rumahmu diruntuhkan bulldozer dengan suara gemuruh menderu, serasa pasir dan batu bata dinding kamartidurku bertebaran di pekaranganku, meneteskan peluh merah dan mengepulkan debu yang berdarah.

Ketika luasan perkebunan jerukmu dan pepohonan apelmu dilipat-lipat sebesar saputangan lalu di Tel Aviv dimasukkan dalam file lemari kantor agraria, serasa kebun kelapa dan pohon manggaku di kawasan khatulistiwa, yang dirampas mereka.

Ketika kiblat pertama mereka gerek dan keroaki bagai kelakuan reptilia bawah tanah dan sepatu-sepatu serdadu menginjaki tumpuan kening kita semua, serasa runtuh lantai papan surau tempat aku waktu kecil belajar tajwid Al-Qur’an 40 tahun silam, di bawahnya ada kolam ikan yang air gunungnya bening kebiru-biruan kini ditetesi airmataku.

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu

Ketika anak-anak kecil di Gaza belasan tahun bilangan umur mereka, menjawab laras baja dengan timpukan batu cuma, lalu dipatahi pergelangan tangan dan lengannya, siapakah yang tak menjerit serasa anak-anak kami Indonesia jua yang dizalimi mereka – tapi saksikan tulang muda mereka yang patah akan bertaut dan mengulurkan rantai amat panjangnya, pembelit leher lawan mereka, penyeret tubuh si zalim ke neraka, An Naar.

Ketika kusimak puisi-puisi Fadwa Tuqan, Samir Al-Qassem, Harun Hashim Rashid, Jabra Ibrahim Jabra, Nizar Qabbani dan seterusnya yang dibacakan di Pusat Kesenian Jakarta, jantung kami semua berdegup dua kali lebih gencar lalu tersayat oleh sembilu bambu deritamu, darah kamipun memancar ke atas lalu meneteskan guratan kaligrafi

‘Allahu Akbar!’ dan ‘Bebaskan Palestina!’

Ketika pabrik tak bernama 1000 ton sepekan memproduksi dusta, menebarkannya ke media cetak dan elektronika, mengoyaki tenda-tenda pengungsi di padang pasir belantara, membangkangit resolusi-resolusi majelis terhormat di dunia, membantai di Shabra dan Shatila, mengintai Yasser Arafat dan semua pejuang negeri anda, aku pun berseru pada khatib dan imam shalat Jum’at sedunia: doakan kolektif dengan kuat seluruh dan setiap pejuang yang menapak jalanNya, yang ditembaki dan kini dalam penjara, lalu dengan kukuh kita bacalah ‘laquwwatta illa bi-Llah!’

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu
Tanahku jauh, bila diukur kilometer, beribu-ribu
Tapi azan Masjidil Aqsha yang merdu
Serasa terdengar di telingaku.

 

Simak juga video berikut:

1 dari 3 halaman

Helvy Tiana Rosa

Helvy Tiana Rosa merupakan salah satu sastrawan perempuan Indonesia yang banyak mengangkat persoalan hak-hak asasi manusia, baik di Indonesia maupun yang terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk Palestina. Sastrawan serba bisa yang telah menerima segudang penghargaan ini bersama komunitasnya kerap menggelar acara “Solidaritas Sastra untuk Palestina”. Salah satu puisinya tentang Palestina yang menyayat hati adalah "Apakah Sampai Padamu Berita tentang Palestina?"
Berikut bunyi puisi tersebut seutuhnya.

Kabar apakah yang sampai padamu tentang Palestina?

Apakah sampai padamu berita
tentang rumahrumah yang dihancurkan
tanahtanah meratap berpindah tuan,
bahkan manusia yg dibuldozer?

Apakah sampai padamu berita
tentang airmata yang tumpah
dan menjelma minuman seharihari
tentang jadwal makan yang hanya sehari sekali
atau listrik yang menyala cuma empat jam sehari?

Apakah sampai padamu
berita tentang kanakkanak yang tak lagi berbapak
tentang ibu mereka yang diperkosa atau diseret ke penjara?
Para balita yang menggenggam batu
dengan dua tangan mungil mereka
menghadang tentara zionis Israel
lalu tangan kaki mereka disayat dan dibuntungi

Apakah sampai padamu berita tentang masjidil Aqsha
di halamannya menggenang darah
dan tubuhtubuh yang terbongkar
Peluru yang berhamburan di udara
menyanyikan lagu kematian menyayat nadi
kekejaman yang melebihi fiksi
dan semua film yang pernah kau tonton
di bioskop dan televisi
Kebiadaban yang mahanazi

Tapi orangorang di negeriku masih saja mengernyitkan kening:
“Palestina? Untuk apa memikirkan Palestina?
Persoalan di negeri sendiri menjulang!”
Mereka bersungutsungut tak suka
Membatu, tak jarang terpengaruh
menuduh pejuang kemerdekaan Palestina
yang membela tanah air mereka sendiri
sebagai teroris!

Duhai, maka kukatakan pada mereka:
Tanpa abai pada semua persoalan di negeri ini
Atas nama kemanusiaan: menyala-lah!
Kita tak bisa hanya diam
menyaksi pagelaran mahanazi
sambil mengunyah menu empat sehat lima sempurna
dan bercanda di ruang keluarga
kita tak bisa sekadar
menampung pembantaianpembantaian itu dalam batin
atau purapura tak peduli
Seorang teman Turki berkata:
mereka yang membatasi ruang kemanusiaan
dengan batasbatas negara
sesungguhnya belum mengerti makna kemanusiaan

Hai Amr Moussa tanyakan pada Liga Arab
belum tibakah masanya bagi kalian
bersatu, membuka hati, berani
berhenti mengamini nafsu Amerika
yang seharusnya kita taruh di bawah sepatu?

Hai Ban Ki Moon,
apakah Perserikatan Bangsa Bangsa itu nyata?
Sebab tak pernah kami dengar
PBB mengutuk dan memberi sanksi
pada mahanazi teroris zionis Israel
yang pongah melucuti kemanusiaan dan keberadaban
dari wajah dan hati dunia
Apakah kalian, apakah kita tak malu
Pada para syuhada flotilla, Rachel Corrie, Yoyoh Yusroh
dan George Galloway?

Karena sesungguhnya kita bisa melakukan sesuatu:
menyebarkan tragedi keji ini pada hatihati yang bersih,
memberi meski sedikit apa yang kita punya
dan mendoakan Palestina

Apakah sampai padamu, berita tentang mahanazi itu?
Tentang Palestina yang bersemayam kokoh
di hati mereka yang diberi kurnia?

Seperti cinta yang tak bisa kau hapus
dari penglihatan dan ingatan,
airmata, darah, dan denyut nadi manusia

: Lawan Mahanazi!

2 dari 3 halaman

Asep Sambodja

Aktif sebagai jurnalis sejak 1988, Asep Sambodja telah melakoni profesi wartawan di banyak media Tanah Air. Namun, pada 2005 dirinya lebih memilih berprofesi sebagai dosen Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Indonesia. Pada usianya yang ke-43, Asep Sambodja meninggal dunia, tapi karya-karya puisinya yang kerap membicarakan tentang kemanusiaan terus bergaung hingga saat ini, termasuk tentang Palestina dan mendiang Munir.

Berikut puisi Asep Sambodja tentang Palestina.

Palestina! Palestina!

aku melihat palestina yang terluka
dan berdarah lagi
israel baru saja mengirim pesawat pembom F16
yang berisi malaikat pencabut nyawa
ke jalur gaza
hingga 870 orang mati
di gaza city
aku melihat palestina terluka teramat dalam
oleh tentara-tentara ehud olmert,
ehud barak, dan tzipi livni
dan 3.000 orang terluka lagi
bermandi darah lagi
tahun baru
membawa luka baru
meski yasir arafat dan isaac rabin
pernah bersalaman
di depan bill clinton
di tahun 1993
tapi apa arti salam-salaman simbolik itu?
apa arti senyum simbolik amerika itu?
mahmoud abbas, apa katamu
setelah ratusan jiwa mati lagi?
ismail haniyah, haruskah ada yang mati lagi?
perang ini mengisi sejarah sepanjang hidupku
sebelum aku lahir hingga kiamat nanti
perang ini akan terjadi lagi
dan lagi dan lagi…
masih mujarabkah doa?
masih berartikah airmata?
aku tak habis pikir
kenapa PBB tak mengirimkan pasukan perdamaian
di jalur gaza,
tepi barat,
dan yerusalem?
Kenapa?

Artikel Selanjutnya
Tere Liye dan Profesi Penulis yang Masih Dipandang Sebelah Mata
Artikel Selanjutnya
Teater Poda, Refleksi Kehidupan Dalam Pertunjukan Menyayat Hati