Sukses

Sebelum Menikah, Diskusi Tentang Keuangan Wajib Anda Lakukan

Liputan6.com, Jakarta Dalam rumah tangga, wajar jika muncul konflik antara suami dan istri. Salah satunya terkait dengan masalah keuangan.

Uang memang merupakan faktor yang sensitif, bahkan ketika seseorang sudah berumah tangga. Perkara kecil bisa saja berubah menjadi pertengkaran besar.

Sebelum memutuskan mengarungi bahtera rumah tangga, lebih baik bicarakan soal keuangan rumah tangga dengan pasangan. Dikutip dari DuitPintar.com, berikut beberapa hal yang bisa menjadi pertimbangan.

1. Perlu perjanjian pranikah tidak?
Pernah dengar soal perjanjian pranikah? Perjanjian pranikah diatur dalam Pasal 29 UU No 1/1974 tentang perkawinan. Di dalamnya diatur segala hal yang berkaitan dengan komitmen rumah tangga, termasuk menyangkut urusan finansial.

Lewat perjanjian pranikah, urusan keuangan bisa diatur dengan jelas. Dengan begitu, bisa mencegah konflik dalam rumah tangga. 

Misalnya, memisahkan kewajiban utang suami dan istri. Jika ada utang suami sebelum menikah, itu harus diselesaikan oleh suami sendiri. Demikian pula sebaliknya.

1 dari 3 halaman

2. Siap buka-bukaan?

Jika kedua pasangan bekerja, pastinya soal gaji harus dibuat transparan. Masing-masing pihak sebaiknya tahu nominal gaji pasangan.

Gunanya, mencegah penyelewengan dana keluarga untuk hal pribadi. Gaji dari suami-istri seharusnya dikelola bersama untuk kebutuhan keluarga.
Pengelolaan ini mencakup pemisahan pengeluaran pribadi dengan keluarga. Karena itu, buka-bukaan soal keuangan penting agar pengelolaan berjalan lancar.
Selain gaji, hal yang perlu dikomunikasikan antara lain belanja pribadi, dan terutama utang.

Kebutuhan kosmetik istri, misalnya. Kira-kira sebulan habis berapa? Dari sisi suami, berapa pengeluaran untuk menyalurkan hobi di bidang otomotif? Keduanya harus sama-sama terbuka agar tidak ada prasangka buruk.
Khususnya soal utang, ini bisa menjadi masalah serius kalau tidak dikomunikasikan. Namanya berkeluarga, utang seharusnya bermanfaat buat seluruh keluarga. Bukan cuma orang per orang.

3. Siapa yang jadi “menteri keuangan”?
Layaknya negara, rumah tangga membutuhkan pengatur finansial. “Menteri keuangan” ini bertugas mengelola keuangan dalam keluarga agar tidak terjadi kebocoran yang ujungnya bisa membuat bangkrut.

Tentukan siapa yang jadi menteri keuangan sebelum menjalin rumah tangga. Memang, baik suami maupun istri sama-sama bertanggung jawab dalam hal keuangan.

Namun harus ada salah satu yang memegang otoritas agar pengelolaan lebih terfokus. Misalnya, istri yang mengatur keuangan. Bukan berarti suami harus menuruti apa pun perintah istri. Istri berkewajiban mengatur pengeluaran keluarga, termasuk pengeluaran suami, agar keuangan aman untuk masa depan. Sebaliknya, suami bisa menegur istri ketika pengelolaan kurang matang. Kerja sama inilah yang diperlukan.

2 dari 3 halaman

4. Membuat anggaran bersama

Terkait dengan urusan keuangan, anggaran keluarga harus disusun bersama meski sudah ada “menteri keuangan”. Tentukan rencana keuangan jangka pendek, menengah, dan panjang.

Jangka pendek, misalnya merencanakan pengeluaran untuk belanja bulanan. Kalau jangka menengah, rencana beli kendaraan untuk alat transportasi sehari-hari.

Adapun jangka panjangnya, antara lain persiapan pendidikan anak hingga beli rumah. Semua hal tersebut mesti matang direncanakan bersama-sama agar bisa saling dukung untuk mewujudkannya.

Keuangan rumah tangga sebenarnya hal yang sepele. Coba bandingkan dengan keuangan negara. Jika kita menuntut pemerintah bisa mengelola keuangan negara dengan baik, kita pun mesti begitu dalam keluarga.

Mari buktikan bahwa kita mampu mengelola keuangan rumah tangga, karena pengelolaan itu penting untuk masa depan bersama.

Artikel Selanjutnya
Hindari 5 Topik Diskusi Ini Saat di Tempat Kerja
Artikel Selanjutnya
6 Pertanyaan yang Membuat Hubungan Semakin Romantis