Sukses

Galnas Gelar Lagi Pameran Keliling, 25 Perupa Lampung Unjuk Gigi

Liputan6.com, Jakarta Setelah vakum pada 2016, tahun ini Galeri Nasional (Galnas) akan kembali menggelar pameran keliling. Digelar di Taman Budaya Provinsi Lampung, 22-29 Maret 2017, pameran keliling ini akan memamerkan koleksi lukisan pilihan yang dimiliki negara. Lebih dari itu, pameran bertajuk “Spirit Khua Jukhai” yang dikuratori seniman A Sudjud Dartanto, David, dan Joko Irianta juga akan memamerkan karya-karya seniman lokal Lampung.

Dalam paparan kurator, Khua Jukhai memiliki makna yang mendalam. “Khua” dalam bahasa Lampung memiliki arti “dua”, sedangkan Jukhai artinya keturunan atau kelompok. “Spirit Khua Jukhai” memiliki makna semangat pencampuran dua budaya dari masyarakat setempat dan pendatang untuk membangun geo-kultural, atau semacam Indonesia kecil yang menyadarkan banyak orang bahwa Indonesia sesungguhnya adalah bentuk dari keragaman budaya itu sendiri.

Terkait pameran, tema ini berkaitan dengan wacana identitas budaya dalam representasi dan praktik seni rupa. Secara umum dapat dikatakan, identitas sendiri merupakan bentuk korelasi, identitas budaya bukan suatu yang final karena terus bergerak.

Karya-karya yang dihadirkan dalam “Spirit Khua Jukhai” berusaha menimbang kehidupan masyarakat Lampung dalam kesehariannya, seperti adat istiadat pada masyarakat Pepadun (Abung) dan Peminggir (pesisir). Akan hadir lukisan dengan berbagai corak gaya dengan teknik yang setidaknya mampu menggambarkan perkembangan wacana seni rupa Lampung dan Indonesia pada umumnya.

Dari 40 karya seni rupa yang dipamerkan, 15 di antaranya merupakan karya-karya koleksi miliki negara karya perupa AD Pirous, Affandi, Hendra Gunawan, Basoeki Abdullah, hingga Raden Saleh.

Tubagus Sukmana, Kepala Galnas, menurut informasi yang diterima Liputan6.com, Selasa (21/3/2017) berharap, pameran ini bisa menyuguhkan yang menarik sekaligus bisa menjadi inspirasi dan edukasi untuk para pelajar dan masyarakat umum.

“Saya mengharapkan, ini bisa menjadi pengetahuan tambahan dan menjadi pengalaman baru bagi masyarakat yang ingin melihat langsung karya-karya asli yang punya nilai historis dalam sejarah seni rupa Indonesia. Semoga ini bisa memotivasi masyarakat untuk mencintai dan makin menghargai para seniman daerah,” ungkap Tubagus yang akrab disapa Andre.

Artikel Selanjutnya
Jeihan Pameran Tunggal Lukisan “Sufi/Suwung” di Bandung
Artikel Selanjutnya
Mampukah Kebudayaan Diterjemahkan dengan Angka? Inilah Jawabannya