Sukses

Bahasa dan Sastra Punya Peran Penting Merawat Kebinekaan

Liputan6.com, Jakarta Partisipasi bahasa dan sastra Indonesia maupun daerah melalui re-identifikasi kebinekaan bangsa menjadi tawaran menarik untuk menyelesaikan berbagai permasalah yang menggejolak di masyarakat saat ini, terutama terkait beragam isu dan agitasi SARA yang berpotensi memecah belah persatuan bangsa.

Sehubungan dengan itu, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menyelenggarakan Bincang-Bincang Kebangsaan dalam Perspektif Kebahasaan dan Kesastraan. Mengusung tema “Merawat Kebinekaan Melalui Bahasa dan Sastra”, acara yang akan digelar Rabu, 1 Maret 2017 di Aula Gedung A, Kompleks Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, mulai pukul 08.00—13.00 WIB ini diharapkan mampu menggali lebih dalam peran bahasa dan sastra, sebagai sarana untuk memunculkan kembali identitas bangsa yang “Bhineka Tunggal Ika”.

Kepala Badan Bahasa, Dadang Sunendar, menurut informasi yang diterima Liputan6.com, Jumat (17/2/2017) mengatakan, “Bincang-Bincang Kebangsaan ini berangkat dari permasalahan yang sekarang sedang tren, yakni laju informasi yang demikian terbuka dan cepat tersebar, terutama di media daring (online) dan media sosial. Pada saat-saat semacam ini, tapisan-tapisan yang merekatkan rasa kebangsaan terasa semakin longgar. Jika masyarakat tidak bijak menyikapinya, kita sebagai bangsa tidak lagi dapat membedakan mana yang benar dan mana yang tidak benar secara moral. Bertalian dengan itu pula, tema ‘Merawat Kebinekaan Melalui Bahasa dan Sastra’ diangkat pada bincang-bincang kali ini.”

Bincang-Bincang Kebangsaan dalam Perspektif Kebahasaan dan Kesastraan I ini merupakan forum diskusi berbentuk pleno dan panel. Di dalam sesi pleno dihadirkan satu pembicara kunci, yakni Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, yang tampil di awal diskusi. Di dalam sesi panel dihadirkan lima pembicara, yakni Bambang Kaswanti Purwa (pakar bahasa), Suminto A Sayuti (pakar sastra), Habiburrahman El-Shirazy (sastrawan), Goenawan Mohamad (budayawan), dan seorang peneliti senior dari Badan Bahasa. Diskusi sendiri akan dipandu oleh Djadjat Sudarajat.