Sukses

Mengejar Matahari Setelah Musim Dingin yang Gelap di Svalbard

Liputan6.com, Jakarta Mengejar matahari pertama setelah musim dingin tiap tahunnya merupakan sebuah pengalaman spesial yang hanya bisa dialami di Svalbard, Norwegia. Mereka harus hidup dalam gelap di musim dingin berbulan-bulan, hingga akhirnya menemukan kembali mentari untuk berkativitas. 

Seperti yang diberitakan laman bbc.com, Selasa (7/2/2017), setiap musim dingin, mulai dari pertengahan November, Kepulauan Svalbard yang ada di utara Norwegia dekat lingkar kutub utara, harus hidup dalam kegelapan. Salah satu daerah berpenghuni di Svalbard, Spitsbergen, harus merasakan empat bulan tanpa cahaya matahari. Namun mereka tetap setia menunggu datangnya bulan Maret, tanda awal mentari akan bersinar kembali.

Para penduduk bercerita bahwa Svalbard memiliki lima musim, yaitu semi, panas, gugur, dan dua macam musim dingin. Musim dingin pertama adalah musim dingin yang gelap tanpa cahaya matahari dan diikuti oleh musim dingin favorit masyarakat, musim dingin kedua yang terang. Musim dingin terang menawarkan mereka berbagai pemandangan alam yang luar biasa, karena warna horizon dapat berubah setiap menitnya.

Masyarakat Svalbard menantikan cahaya matahari pertama setiap tahunnya di bulan Maret. (foto : Bas van Oort, bbc.com)

Setiap awal Maret mereka akan berkumpul di depan tangga kayu yang diberi nama "Sykehustrappa" untuk menyaksikan matahari pertama yang muncul. Hal ini dilakukan karena matahari pertama sering terhalang gunung yang mengelilingi kepulauan mereka. Tentunya perayaan ini akan diramaikan oleh seluruh penduduk, sambil menari dan menyanyikan lagu tradisional Norwegia.

Seluruh penghuni Svalbard, akan berkumpul di tangga kayu rumah sakit untuk menantikan cahaya matahari pertama. (foto : Bas van Oort, bbc.com)

Selain merasakan kegelapan, penduduk Svalbard juga akan merasakan terang selama 24 jam penuh di kala musim panas melanda. Mereka akan tetap melihat matahari yang melingkar di atas ufuk, meski jam sudah menunjukkan waktu malam hari. Namun tetap saja, hidup di kepulauan kutub ini menjadikan mereka lebih menghargai apa yang selama ini manusia lupakan, yaitu kekuatan dan anugerah dari cahaya matahari.