Sukses

Keindahan Makna Puisi Maskulin yang Dibawa Lembut Para Wanita

Liputan6.com, Jakarta Panggung Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki menjadi saksi, ketika puisi mampu disampaikan kepada khalayak dengan cara yang modern dan menggugah. Melalui ekspresi, mimik dan gaya masing-masing penampil, mereka memberikan kesan yang spesial dalam puisi yang dibacakan. Kolaborasi ini hanya terjadi dalam “Puisi Teatrikal Manusia Istana” dari antologi puisi karya Radhar Panca Dahana, pada Sabtu (28/1/2017).

“Puisi saya terlalu maskulin. Saya tidak ingin menyampaikannya seperti penyait sebelumnya yang harus berkonflik, Meski puisi ini keras, dalam penguncapannya dapat lebih lunak sehingga pesannya bisa diterima dengan baik. Contohnya saja, tidak ada yang berani marahin Maudy atau Olivia ketika membaca puisi ini.” ujar Radhar.

Ternyata, puisi-puisi ini mampu dibawakan dengan baik oleh para pemainnya, yaitu Olivia Zalianty yang merangkap sebagai produser pertunjukan ini, Cornelia Agatha, Marcella Zalianty, dan Maudy Koesnaedi. Tidak lupa para pekerja seni kenamaan lainnya seperti Dinda Kanya Dewi dan Prisia Nasution yang lebih sering muncul di layar kaca. Para pemain inilah yang mampu menyihir berbagai bait dalam puisi “Manusia Istana” menjadi lebih mudah diterima oleh khalayak melalui kemampuan seni peran masing-masing.

Penampilan Cornelia Agatha dalam puisi "Demontrasi"

Seperti Cornelia Agatha yang mampu membawakan puisi “Demontrasi” bak seorang orator ditengah kumpulan pendemo. Bait-bait puisi yang keras dan penuh dengan energi, berhasil dibawakan secara menarik dan menggugah para penonton untuk menghayati bagaimana keriuhan aksi demo dibalik kata-kata provokatif yang diucapkan oleh Cornelia. Berdiri di atas tangga, Cornelia tampak cakap menebarkan semangat yang kekuatannya sama dengan orator demo.

Penampilan Maudy Koesnaedi dalam puisi "Toilet Istana"

Lain lagi dengan karya satir “Toilet Istana” yang dibawakan oleh Maudy Koesnaedi dengan penuh penghayatan. Meski berperan sebagai seorang pria, puisi tersebut menjadi sangat menarik dan indah dengan kemampuan seni peran Maudy yang berhasil membawakannya dengan cemerlang. Pertunjukan ini makin mantap dengan tambahan efek suara yang sangat sesuai dan membantu para penonton memahami makna puisi tersebut.

Penampilan Olivia Zalianty dalam puisi "Warisan Akhirmu Soekarno"

“Warisan Akhirmu Soekarno” dibacakan dengan lantang oleh Olivia Zalianty di depan podium, dengan berpakaian safari khas zaman dahulu. Menceritakan tentang Pancasila, Olivia tampak berapi-api dalam membacakan puisi ini. Bahkan saat latihan, Olivia mengakui ia sedikit grogi saat membacakan puisi ini.

“Deg-degan, tapi Insyaallah lancar. Pas baca puisi Warisan Akhirmu Soekarno, saya sempat grogi dan dipijitin dulu di belakang panggung. Barulah bisa membawakannya dengan baik, Mudah-mudahan pekerjaan yang kita lakukan di sini bisa jadi peristiwa sejarah dan bermanfaat,” ujar Olivia Zalianty setelah penampilan berlangsung.

Seluruh penampil membawakan karya "Daster"

Lain lagi saat karya “Daster” dibawakan dengan busana daster yang dikenakan seluruh pemain di atas pentas. Puisi yang menceritakan seorang wanita yang merasa kehidupannya tidak ada perubahan selama bertahun-tahun, dibawakan secara serempak oleh seluruh pemain wanita. Olah peran yang mantap oleh setiap pemain, membuat penonton terkesima dengan tiap bait puisi yang disampaikan.

Selain enam penampil wanita yang membacakan puisinya secara langsung, puisi dalam Manusia Istana juga disampaikan dalam lagu oleh Tony Q Rastafara dan Slank. Mereka juga membawakan lagu ini kepada khalayak langsung dalam pagelaran ini, lengkap dengan tata panggung dan tata suara yang apik.

“Kita udah beberapa kali kerjasama dengan mas Radhar dan kali ini diberi kehormatan untuk melagukan puisi yang optimistik. Akhirnya terpilihlah puisi Kabut Sebuah Negeri yang tidak panjang dan optimis, cocok sama Slank yang lagi menyuarakan harapan,” ujar Kaka Slank.

Seluruh properti dalam penampilan ini sudah dipikirkan matang-matang, baik dari properti fisik dan teknologi video mapping. Bahkan dalam puisi “Sijilid Komik” yang dibawakan langsung oleh Radhar, ia memilih dapur sebagai visual yang disampaikan kepada penonton. Sambil membacakan puisinya, Radhar memotong-motong sayuran secara sembarangan, dan memasaknya di kompor yang menyala.

“Maunya pengen belah kepala bayi, tapi ngga bisa, karena itu ada darah di akhir penampilan. Jadi penggambaran dapur itu kayak SDM dan SDA kita yang diacak-acak. Negeri kita ini bagaikan meja makan oleh para elit,” jelas Radhar.

Puisi Teatrikal yang diproduksi oleh Teater Kosong yang bekerjasama dengan Oz Production dan Kasni Indonesia ini, memiliki sebuah pesan yang ingin disampaikan kepada khalayak. Radhar menjelaskan karya ini semacam keprihatinan yang diharapkan mampu menggugah para elit yang hadir, supaya tergerak hatinya sebelum mengubah negara.

”Mudah-mudahan Tuhan memberkati kita semua, memberikan kebaikan dan acara ini memberikan maslahat." tutup Radhar.

Artikel Selanjutnya
Gamelan dan Prambanan Jadi Daya Tarik Obama ke Yogyakarta
Artikel Selanjutnya
Cara Kreatif Berbagi Kebahagiaan dan Kelembutan di Bulan Ramadan