Sukses

Rayakan Kedewasaan, Remaja di Jepang Pakai Kimono Rp 113 Juta

Liputan6.com, Jakarta Hadir satu kali setahun dalam kehidupan mereka, Seijin No Hi atau hari kedewasaan di Jepang memiliki arti yang sangat besar bagi para remaja di Jepang. Bahkan, para perempuan rela menghabiskan biaya sebesar Rp 113 juta untuk memakai kimono dalam libur nasional ini seperti yang dirilis oleh japan-talk.com, Selasa (10/1/2017).

Para perempuan mengenakan kimono bernama furisode, sedangkan laki-laki menggunakan hakama (Foto : japan-talk.com)

Diselenggarakan pada hari Senin setiap minggu kedua Januari tiap tahunnya, Seijin No Hi merupakan hari khusus bagi para remaja di Jepang. Khusus di hari tersebut, setiap remaja perempuan dan laki-laki diberi ucapan selamat dan berbagai festival dipersiapkan untuk merayakan kedewasaan mereka. Seluruh remaja yang sudah berumur 20 tahun setelah tanggal 2 April tahun sebelumnya akan diberikan undangan oleh pemerintah untuk menghadiri Seijin No Hi.

Mereka akan dikumpulkan di kuil atau lapangan dan diberikan hadiah kecil, sebagai tanda sebagai orang dewasa yang diakui oleh pemerintah. Karena berlangsung sehari seumur hidup, banyak perempuan yang mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Mereka akan merias diri pada pagi hari dan mengenakan sebuah kimono khusus bernama furisode.

Tak jarang juga laki-laki mengenakan jas dan dasi sebagai pakaian untuk menghadiri Seijin No Hi (foto : japan-talk.com)

Furisode memiliki bentuk yang sedikit berbeda dengan kimono kebanyakan karena memiliki kain tambahan di bagian lengan yang lebih panjang. Satu set pakaian furisode ini biasanya dibanderol dengan harga 1 juta yen, atau setara dengan Rp 113 juta. Karena itu, banyak di antara mereka yang meminjam atau menyewa furisode untuk datang ke Seijin No Hi.

Setelah upacara Seijin No Hi selesai, mereka akan pergi minum sebagai tanda menjadi dewasa baru (Foto : japan-talk.com)

Para pria juga tidak ingin kalah. Mereka menggunakan hakama atau kimono dengan warna yang lebih gelap untuk merayakan Seijin No Hi. Namun karena modernisasi, banyak pria yang menggunakan pakaian barat seperti jas dan dasi untuk menghadiri upacaranya. Setelah upacara selesai, mereka akan pergi minum-minum sebagai tanda bahwa mereka sudah diperbolehkan hidup seperti orang dewasa.

Artikel Selanjutnya
Matasora World Music Festival Diserbu Wisatawan
Artikel Selanjutnya
Jadi Destinasi Wisata Belanja Batik, Sleman Gelar Tiga Lomba