Sukses

Rajin Olahraga Namun Tak Kunjung Langsing? Coba Latihan yang Lain

Liputan6.com, Jakarta Pernahkah Anda mengalami, sudah olahraga keras selama berbulan-bulan namun tak kunjung terlihat hasilnya? Anda tidak sendirian. Ternyata, menurut sebuah penelitian, tak sedikit orang yang menjalankan program olahraga namun tidak melihat adanya perbaikan. Beberapa ilmuwan di bidang kesehatan mengatakan, mereka adalah orang-orang yang "nonresponder". Mereka yang tubuhnya tidak merespons latihan fisik yang dilakukan. Dan, jika semangatnya kendor, mereka menjadi enggan melakukan olahraga apa pun.

Fakta tentang "nonresponder" ini sebetulnya pernah terungkap dalam penelitian yang dilakukan tahun 2001, dalam sebuah survei tentang olahraga lari, bersepeda, jogging, dan olahraga sejenis. Studi tersebut menunjukkan jenis latihan ketahanan. Memang, sebagian orang pada akhirnya berhasil meningkatkan daya tahan fisik mereka hingga 100%, akan tetapi ada juga sebagian yang lain yang malah menjadi kurang sehat, meski mereka melakukan latihan yang sama.

Usia, jenis kelamin dan etnisitas bukanlah faktor yang memengaruhi berhasil tidaknya sebuah jenis latihan. Yang menarik, mereka yang tidak merespons latihan ketahanan ini biasanya karena faktor turunan dari keluarga. Dalam hal ini, faktor genetik berperan besar. Sejak itu, penelitian serupa menindaklanjuti hasil temuan tersebut, mengungkap bahwa orang bisa memiliki reaksi secara ekstrem terhadap latihan beban, menambah kekuatan dan massa otot, sementara yang lain malah kehilangan kekuatan dan massa ototnya.

Penelitian terbaru dilakukan oleh peneliti asal Queen’s University di Kingston, Ontario, dan University of Ottawa, Kanada. Mereka meneliti 21 responden pria dan wanita sehat, dengan mengukur VO2 mereka, yakni berapa banyak oksigen yang dipompakan paru-paru ke otot, denyut nadi, dan parameter fisik lain yang biasa digunakan pada saat latihan fitness aerobik.

Mereka juga meminta setiap responden menyelesaikan dua jenis latihan. Masing-masing dilakukan selama 2 minggu, dan setelah itu mereka bisa kembali ke fitness rutin mereka. Hasilnya berbeda pada masing-masing responden. Sepertiga dari mereka tidak mengalami perubahan setelah latihan, sepertiga yang lain malah mengalami penurunan kebugaran. Hanya sepertiga sisanya yang sukses mengalami perubahan positif.

Eksperimen ini menunjukkan, tidak ada satu jenis latihan pun yang paling cocok untuk semua orang. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana menentukan latihan yang paling tepat untuk Anda? Jawabannya sederhana: coba terus! Sebelum memulai latihan rutin, ukur terlebih dahulu. Caranya, saran Dr. Brendon Gurd dari Queen’s University, Anda bisa melakukan latihan berupa jalan kaki atau naik tangga, lalu cek denyut nadi. “Nah, itu adalah angka Anda. Lalu, mulailah melakukan olahraga yang Anda pilih,” ujarnya.

Setelah sebulan melakukan satu jenis latihan, lakukan kembali tes naik tangga tadi, maka denyut nadi Anda tidak akan secepat denyut nadi saat tes yang sebelum Anda berolahraga. “Jika angka denyut nadi tidak berubah, maka Anda termasuk Nonresponder.” Dalam kasus ini, Dr. Brendon Gurd merekomendasikan untuk mengganti jenis latihan. “Kesimpulannya, bukanlah Anda harus berhenti olahraga karena itu tidak berpengaruh bagi anda, tetapi olahraga akan membantu Anda, sekali anda menemukan jenis latihan yang tepat.”

Ficky Yusrini

Artikel Selanjutnya
Penyebab Kulit Kusam Saat Ramadan dan Cara Mencegahnya
Artikel Selanjutnya
5 Makanan Anti-Perut Buncit Andalan Khloe Kardashian