Sukses

Jangan Sembarangan Memberi Nomor Telepon, Kenapa?

Liputan6.com, Jakarta Saat Anda mendaftar menjadi pelanggan buletin online, Anda seringkali diminta untuk mencantumkan nomor ponsel di lampiran pendaftarannya. Berhati-hatilah. Para ahli memperingatkan, satu nomor ponsel dapat mengungkapkan identitas personal pemiliknya, termasuk nomor induk kependudukan, alamat, dan nomor rekening Anda, seperti dilansir dari laman newyork.cbslocal.com, Sabtu (26/11/2016). 

Ian Marlow, seorang ahli keamanan dunia maya sekaligus chief eksekutif di Fiftech LLC mengatakan, konsumen sangat blak-blakan jika diminta mencantumkan nomor ponselnya, padahal menurutnya hal tersebut bisa berpotensi membuka data rahasia miliknya. Sebagai contoh, Marlow memasukkan urutan digit nomor ponsel reporter CBS di sistem pencarian nomor telepon secara online. Hasilnya mengejutkan. Dalam beberapa detik, nama lengkap reporter tersebut, beserta alamat, dan data-data personal lainya terpampang jelas di layar.

Marlow memperingatkan, nomor ponsel bisa digunakan untuk memverifikasi data diri untuk kepentingan pembayaran tagihan. Secara sederhana, seseorang yang memiliki niat tidak baik kemungkinan bisa menggunakan data diri Anda untuk membeli sebuah produk secara online, kemudian mengirimkan tagihannya ke kartu kredit Anda.

“Nomor ponsel juga bisa digunakan untuk mencari informasi lain yang lebih personal, seperti data anggota keluarga Anda,” tambah Marlow lagi.

Sementara itu, Khaled, seorang wiraswastawan muda asal Lamongan baru-baru ini mengaku dijadikan target penipuan karena nomor ponselnya. Sebagai seorang pengusaha, sangat lumrah baginya memberikan nomor ponselnya ke calon klien. Khaled mendapat SMS resmi dari provider kartu ponselnya yang menyatakan bahwa nomor ponselnya telah terdaftar. SMS itu juga menyebutkan kode unik sebagai paswordnya. Tak lama kemudian, seseorang menghubungi dan memberitahunya bahwa ia mendapat hadiah dari provider kartunya. Khaled diminta menyebutkan angka password yang telah diterimanya lewat SMS.

Khaled tidak ragu memberikan password tersebut karena si penelepon mengaku sebagai karyawan dari provider kartunya. Lagipula SMS yang masuk ke ponselnya adalah sebuah SMS dari provider tersebut, bukan dari nomor sembarangan.

Si penelepon secara mengejutkan menyebutkan dengan benar semua data diri Khaled, nama, alamat, tanggal lahir, bahkan tanggal pertama kali nomor ponselnya digunakan. Lalu memandunya untuk mentransfer sejumlah uang ke rekening tertentu.

Untungnya Khaled ragu dan langsung menutup teleponnya. Setelah ditelisik ternyata, si penelepon telah memasukkan nomor ponselnya tanpa izin ke laman provider kartu ponselnya. Si penelpon gelap tersebut bisa mendapatkan data pribadi karena berpura-pura mencocokkan password yang dikirim lewat SMS resmi dari provider. Data diri seseorang pun bisa diakses dengan mudah dan dijadikan modus penipuan.

Memberikan nomor ponsel kadang dianggap sebagai bentuk basa-basi yang lumrah, apalagi dalam dunia bisnis. Namun tetap waspada sebab banyak ragam modus penipuan yang mengintai.

Ana Fauziah