Sukses

Batik Ini Jadi Simbol Kebangkitan Warga Yogyakarta dari Gempa

Liputan6.com, Yogyakarta Batik identik dengan Indonesia khususnya Yogyakarta yang dikukuhkan sebagai kota batik dunia oleh World Craft Council (WCC). Banyak kreasi batik yang bisa ditemukan saat Anda melancong ke kawasan sejuta pesona ini, mulai dari baju, sendal, celana, hingga topi. Namun ada satu yang menarik, salah satu motif batik yang dibuat salah seorang warga menjadi simbol kebangkitan warga Yogyakarta pasca-bencana gempa. 

Putu sukarelawan dari Paguyuban Batik Sekar Jagad mengatakan, Yogyakarta mempunyai motif batik yang beranekaragam. Batik yang dihasilkan tidak lepas dari hasil kreasi warganya sendiri. Saat gempa besar melanda Kota Jogja dan menghancurkan hampir seluruh bangunan, warga kesusahan untuk membatik lagi. Paguyuban Sekar Jagad pun melihat gelagat aktivitas membatik bisa hilang jika tidak segera difasilitasi. Dengan membatik lagi roda perekonomian dapat berjalan kembali. Warga dapat menikmati hasil dari membatik.

"Setelah gempa di Bantul itu alat membatik rusak. Lalu Sekar Jagad mengumpulkan jadi satu warga lalu memberi fasilitas, nah dari batik Imogiri akhirnya warga bisa membatik. Waktu itu di Imogiri," ujar Putu kepada Liputan6.com, Minggu (13/11/2016).

Putu mengatakan warga Yogyakarta yang terkena dampak Gempa 2006 waktu itu bisa membuat motif batik yang beranekaragam. Batik yang dihasilkan seperti batik ceplok, batik Cendrawasih, batik kokrosono, hingga batik Karung Buntal.

Pasca-gempa 2006 di Jogja, aktivitas membatik warga sempat kolaps dan sulit untuk bangkit.

Putu mengatakan motif batik bisa dibilang biasa namun batik ini dikenal dengan batik gempa. Hal ini karena hasil kreativitasnya dilakukan setelah gempa Jogja 2006 lalu.

"Karena mungkin dinamakan Post Earth Quake, karena kan mengingat gempa pasca gempa gitu aja," ujarnya.

Putu mengatakan batik jenis ini juga sempat dipajang dalam Jogja International Batik Biennale 2016 di Jogja Expo Center. Saat itu batik ini mendapat perhatian dari istri wakil Presiden RI, Mufida Kalla. Saat itu ia menanyakan batik apa yang berwarna biru ini.

"Kenapa biru, ya pewarnaan karena waktu itu hanya itu yang tersedia. Batik Mataram kan coklat nah ini pakai nama indigo," ujarnya. (Yanuar H)

Artikel Selanjutnya
Maruarar: Jangan Takut Hadapi Terorisme dan Radikalisme
Artikel Selanjutnya
Jokowi Bagi-Bagi Suvenir di Karnaval Kemerdekaan, Apa Saja?