Sukses

Cilincing, Budaya Maritim, dan Lezatnya Kuliner Pesisir Jakarta

Liputan6.com, Jakarta Berkeliling Cilincing dan menyicipi beragam kuliner khas pesisir Jakarta tentu menjadi aktivitas wisata yang menarik. Dikenal sebagai kampung nelayan yang penduduknya bergantung pada hasil tangkapan laut, Cilincing tetap menjadi kawasan yang terus menjaga kerukunan di tengah keragaman. Hal tersebut terbukti, dalam radius 1 kilometer, lima tempat ibadah dari agama yang berbeda dibangun di kawasan ini.

Keragaman kekayaan budaya dan kuliner inilah yang menjadikan kawasan Cilincing dipilih sebagai destinasi penjelajahan komunitas Jakarta Food Adventure (JFA) selanjutnya. Ira Lathief, Founder Jakarta Food Adventure, kepada Liputan6.com, Minggu (31/72016) mengatakan, “Cilincing dipilih karena memiliki kebudayaan maritim dan ada kampung nelayan. Kita mau ajak peserta tur untuk melihat lebih dekat gimana kehidupan orang-orang di pesisir Jakarta yang hidup dari laut, karena Jakarta bukan Cuma tentang gemerlap kota saja.”

Memulai penjelajahan dari SMK 36, sebagai sekolah kejuruan yang berfokus pada ilmu perikanan dan kelautan, para peserta kemudian diajak mengunjungi Tempat Pengolahan Ikan Asin, dan mampir ke tiga tempat ibadah bersejarah, yaitu Vihara Lalitavistara, Pura Segara, dan Masjid Al Alam.

Pengolahan ikan asin Cilincing masih dilakukan dengan cara tradisional, yaitu dengan mengandalkan bantuan sinar matahari untuk mempercepat proses pengeringan dan mencegah agar ikan tidak busuk. “Cara pengasinan tradisional ini dipercaya menghasilkan kualitas ikan asin yang lebih baik daripada dengan cara modern, yaitu dioven. Rasanya juga lebih gurih,” ungkap Ira.

Tak hanya dipasok untuk kebutuhan kawasan Cilincing, ikan asin para nelayan yang sudah dijemur kemudian didistribusikan ke berbagai daerah di Jakarta dan sekitarnya. Selain itu, kawasan teluk Cilincing yang juga menjadi lokasi pembudidayaan kerang hijau juga menjadi kunjungan JFA selanjutnya.

Pengolahan ikan asin Cilincing, Jakarta Timur, merupakan pengolahan ikan asin terbesar di Jakarta.

Di tempat tersebut, tiap orang bisa menyaksikan pembudidayaan kerang hijau yang dilakukan dengan cara sederhana, yaitu dengan hanya menancapkan bambu ke dasar perairan yang terdapat bibit kerang. Setelah 5-6 bulan, kerang sudah bisa dipanen. Selain lezat kerang hijau juga memiliki kandungan gizi yang sebanding dengan telur ayam.

Tak hanya itu, para peserta juga berkesempatan mengunjungi krematorium yang sudah ada sejak tahun 1975. Krematorium satu-satunya di Jakarta ini masih melayani proses kremasi secara oven maupun tradisional dengan menggunakan kayu.

Dikenal sebagai kampung nelayan, Cilincing menjadi sentra bagi wisatawan yang ingin merasakan kenikmatan kuliner khas pesisir di Jakarta.

“Ini (krematorium) satu-satunya yang ada di Jakarta, tempat pembakaran mayat yang biasa dipakai oleh umat dari berbagai agama, Buddha, Kristen, dan Hindu,” kata Ira.

Sementara itu, Kampung Deret Cilincing yang merupakan kawasan proyek revitalisasi kawasan pemukiman kumuh, kini dipenuhi rumah berwarna-warni dan mengundang daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Banyak kuliner khas pesisir yang dijajakan, bagi Anda yang gemar makan makanan laut, Kampung Nelayan Cilincing menjadi tempat yang tepat untuk dijadikan destinasi wisata kuliner Anda selanjutnya.

“Ada kijing atau orang kenalnya kerang hijau, ada aneka olahan ikan asin dari berbagai jenis ikan, juga aneka seafood segar dan lezat,” kata Ira menambahkan.